Bekerja yang dekat dengan orang tua atau merantau? silahkan simak tulisan ini sejenak

Memang risiko sebuah pilihan. Sejak menyelesaikan kuliah dan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman yang kecil dan terkesan tidak punya harapan, pertanyaan itu seringkali saya dapatkan. Teman-teman seperjuangan saat menjadi mahasiswa memilih untuk berkarier di kota besar. Lebih banyak kesempatan, dan pastinya lebih mudah cari uang.

“Kenapa sih kamu pilih kerja di kampung halaman? Nggak pengin gitu sekali merantau dulu cari pengalaman? Sayang banget kalau kamu stuck di kota ini dan nggak bisa berkembang.”

Di luar itu, rasanya tinggal jauh dari rumah bisa memupuk kemandirian. Tidak lagi bergantung dengan orangtua. Ya, itu semua benar. Namun, pilihan untuk tinggal di kampung halaman ini juga bukan tanpa pertimbangan. Bukan pula karena takut hidup sendirian dan enggan mencoba tantangan. Apalagi karena manja. Karena, berkarier di kampung halaman dekat dengan orangtua ternyata mengajari saya banyak hal.

1. Ingin juga menjajal karier di kota besar, tapi usia orangtua jadi pertimbangan. Hidup memang perkara pilihan usia orangtua jadi pertimbangan

Jika menuruti kata hati, ingin juga berkarier di kota besar yang lebih menjanjikan. Saat melihat lowongan yang dikirim ke email oleh Jobstreet, rasa sesal itu selalu muncul karena lokasinya di jauh di luar kota. Padahal di rumah, usia orangtua yang sudah menua membuat ruang geraknya terbatas. Bapak semakin sering kena reumatik, dan Ibu harus mulai mengontrol kadar gula darahnya. Situasi ini yang membuat saya berpikir berulang-ulang untuk tinggal jauh dari rumah. Sebab bagaimanapun, jarak membuat ruang gerak jadi terbatas jika sewaktu-waktu kondisi darurat datang. Ini yang mengajarkan saya untuk memilih, dan mengerti bahwa setiap pilihan ada risiko.

2. Melanjutkan usaha yang sudah dirintis oleh orangtua juga bukan dosa. Apa yang sudah diperjuangkan itu juga layak dijaga melanjutkan usaha keluarga juga tidak dosa

Dulu saya sempat berpikir, melanjutkan usaha orangtua itu tanda-tanda sikap manja. Malas mencari pintu dan membangun usaha sendiri, dan hanya menerima apa yang sudah disiapkan oleh keluarga. Tapi rasanya itu pemikiran yang kejam dan mungkin salah. Sebab, usaha orangtua itu juga bukan hadir begitu saja. Mungkin dulu awal perintisannya berdarah-darah, dan banyak hal yang dikorbankan. Pun usaha itulah yang menjadi sumber finansial selama ini. Apakah sebuah dosa bila sebagai anak ingin melanjutkan apa yang sudah orangtua perjuangkan?

3. Memilih tetap tinggal bersama orangtua ternyata bukan berarti manja. Sebab pilihan ini juga bukan tanpa tanggung jawab sama sekali bukan berarti manja

Dulu mungkin saya mengamini bahwa memilih tinggal dengan orangtua berarti manja. Sebab di usia kanak-kanak dan remaja, orangtua memang menjadi tumpuan utama. Semua kebutuhan dipenuhi dan tugas kita hanya berkembang dan belajar saja. Tapi sekarang situasinya berbeda. Di usia senja, kitalah yang harus menjadi tumpuan orangtua. Kitalah yang harus bertanggung jawab pada orangtua. Sedang di sisi lain, kita juga bertanggung jawab atas hidup dan mimpi-mimpi kita sendiri. Dari semua ini, apakah saya masih terlihat seperti anak manja?

4. Situasi kota kelahiran mungkin tidak mendukung perkembangan. Dengan dukungan yang minim, saya bisa memaksa diri berkembang sebisanya sulit berkembang, tapi bisa

Bila bicara soal peluang, jelas ada kesenjangan besar antara kota besar dan kampung halaman yang kecil ini. Jangankan soal kesempatan untuk mengembangkan karier, perkara transportasi saja jauh berbeda. Di kota besar, saya bisa ke sana kemari tanpa sulit mencari transportasi karena di sana kota hidup 24 jam. Sedang di sini, tak banyak yang bisa dilakukan. Karier dan komunitas pun terbatas. Dengan segala keterbatasan itu, saya harus memutar otak untuk mengembangkan diri sebisanya. Saya tak ingin kalah dengan teman-teman yang merantau, jadi saya harus berkembang dengan cara lain yang saya bisa.

5. Setiap hari menerima pertanyaan “kok nggak cari kerja di kota?” dengan tuduhan anak mami membuat saya lebih berbesar hati

Keputusan ini juga penuh risiko. Salah satunya dianggap takut mencoba tantangan dan cari pengalaman. Juga dituduh sebagai anak mami yang tidak bisa jauh-jauh dari orangtua. Teman-teman yang mempertanyakan kenapa saya memilih tinggal di kampung halaman juga lama-lama menyebalkan. Tapi dari sini, saya belajar untuk berbesar hati. Saya yakin bahwa untuk berkembang tidak harus di kota besar, asalkan kita tahu cara untuk melakukan hal yang benar. Saya juga tahu bahwa keputusan ini mungkin salah dan buruk bagi sebagian orang, tapi yang terpenting saya punya alasan. Dan orang lain tak harus tahu apalagi memahaminya.

Hidup adalah perkara prioritas. Untuk saat ini, prioritas saya jelas mendampingi orangtua. Lagipula, berkembang atau stuck itu pilihan. Berada di kota besar kalau semangatnya tipis dan takut mencoba ini dan itu juga percuma. Begitu juga saya yang tinggal di kota kecil kampung halaman, dan di rumah orangtua. Asalkan saya mau berkembang, pasti ada jalan.

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Konsultasi pengadaan seragam sekolah?
Open chat